Masa itu, iya masa itu dimana dunia terasa selalu menyejukkan
dan menentramkan hatiku, seolah-olah seluruh makhluk di planet ini mencurahkan
segala perhatian, kasih, dan sayang serta cinta nya untukku. Begitu banyak
kenangan manis nan indah, bahkan sangat dan terlalu indah untuk di kenang,
memiliki keluarga dan sahabat yang selalu mengisi ruang-ruang indah yang
berwarna dalam hidupku, setiap hari, setiap waktu kebahagiaan menyelimuti
kehidupanku kala itu bersama orangtua dan juga sahabatku. Ayahku adalah sosok
laki-laki yang memiliki kesabaran luar biasa yang pernah aku temui, ia selalu
mengusahakan yang terbaik untukku, dulu ketika aku menghadapi ujian di sekolah
ia selalu membimbingku dan mengajariku agar aku menjadi yang terbaik dan menjadi
bintang kelas. Kala itu ibuku berada jauh dariku, ia bekerja di luar negeri,
sehingga waktu kecilku banyak ku habiskan bersama ayahku. Ayahku sering
mengajakku jalan-jalan ketika aku libur sekolah, ia mengajariku berenang,
bersepeda, memasak, dan masih banyak hal yang aku habiskan bersama ayah, ayahku
sangat menyayangiku karena waktu itu aku menjadi anak semata wayangnya. Hmm....
terasa dunia hanya untukku. Nenek, kakek, ayah, ibu semuanya sangat
menyayangiku. Banyak perjalanan yang aku lewati bersama ayahku dan juga nenekku
waktu itu, Dan aku memiliki sahabat yang
juga sangat menyayangiku, kami selalu bermain bersama dengan segala kekonyolan
tingkah laku kita, kita sering main ke sungai untuk mandi dan mencuci, hingga
pada suatu hari ketika aku pulang dari sungai bersama sahabatku, ada orangtua
dari temanku yang marah-marah kepadaku, berbagai hinaan, cacian ku terima
dengan telinga terbuka kala itu, miris, sakit, dan perih yang ku rasa sangat
menyesakkan dadaku. Tak apa jika aku saja yang di hina, namun, aku tak terima
bila orangtua itu juga menghina keluargaku. Apa permasalahannya, orangtua itu
mengira bahwa aku yang mengejek anaknya, dengan sebutan “orang hitam”. Namun,
sahabatku lah yang membuatku kuat dan tangguh menghadapi segalanya di
tengah-tengah isak tangisku. Kemudian kami memutuskan untuk bersepeda, kami
melakukan perjalanan menyusuri setiap sudut desa dengan bersepeda. Sehingga
kami mengetahui jalan-jalan kecil yang ada di desa-desa sekitar tempat
tinggalku. Awalnya kami tidak tahu arah
jalan sama sekali, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan kami, dan kami selalu
menemukan jalan-jalan baru yang belum pernah kita lewati, asyik dan seru
melakukan perjalanan dengannya. Setelah itu kami pun pulang untuk beristirahat
dan makan, kami sering bermain bersama. Karena rumah kami bisa di bilang dekat,
dia yang sering datang ke rumahku, aku sangat bersyukur memiliki sahabat
seperti dia yang peduli dan selalu ingat denganku, tiba suatu hari ketika aku
harus pergi dari kotaku untuk menuntut ilmu, dia pun menangis karena dia tak
memiliki teman jika aku akan tinggalkan kota itu. Kota kita memiliki banyak
kenangan pahit, manis nya kehidupan yang telah kita alami. Aku pun juga
menangis membaca pesan singkatnya waktu itu, begitu banyak kenangan yang indah
pernah aku almai bersama dia, mulai dari tertawa bersama, menangis bersama,
hingga mendapat caci maki dari orang lain karena kebersamaan kita yang membuat
mereka bosan, kemana-mana ada kita yang selalu bersama. Seperti daun kering
yang berguguran terbawa oleh angin
hingga terbang kemana-mana, seperti itulah kisahku dengan dia berpisah dengan
untuk terbang menggapai tujuan kita masing-masing entah kemana angin akan
membawa kita, namun, aku akan selalu mengenang dan mengingat masa kecil kita
yang selalu bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)
SELAMAT JALAN ANAKKU
Aku tercengang membaca tulisan temanku di media sosial yang mengabarkan bahwa anaknya telah berpulang, bisa terbaca disana ada kes...
-
Bagaimana bisa dulu aku meyakini bahwa selamanya “kau tak akan pernah tergant...
-
Jarak tak pernah bisa berdusta bahwa ia menyisakan sebuah rindu, dan rindu pun tak pernah bisa berdusta bahwa ia menyis...
-
ayah ... sungguh engkau adalah laki laki terhebat dalam hidupku , aku bangga padamu ayah ... dengan semua kegigihan mu memperjuangkan se...