Senin, 10 Februari 2020

SELAMAT JALAN ANAKKU





Aku tercengang membaca tulisan temanku di media sosial yang mengabarkan bahwa anaknya telah berpulang, bisa terbaca disana ada kesedihan yang begitu amat mendalam.
“Mas, lihat deh baru kemarin temanku berbagi kabar bahagia bahwa anaknya telah lahir dengan sehat dan selamat, hari ini dia mengabarkan bahwa anaknya telah berpulang”  sambil ku sodorkan gawai pada suamiku dan memperlihatkan berita itu yang sudah tersebar dimana-mana.
“Iya dek, memangnya sakit apa?” Tanya suamiku.
“Gak tahu juga sih mas, kemarin juga sehat-sehat aja. Ya takdir Allah siapa yang tahu? Tapi masyaAllah  dia beruntung lo, insyaAllah menjadi hamba pilihanNya yang akan di buatkan baitul hamdi  di surga Allah begitulah kiranya aku pernah membaca sebuah hadits, kita doakan saja ya supaya mereka sabar dan ikhlas”
“Aamiin” 
“Alhamdulillah hari ini sudah berjalan 7 bulan kehamilanku , tidak terasa ya mas? Sudah kubayangkan aku akan menimangnya,  aku sangat menikmati kehamilan ini”
“Iya dek, semoga sehat terus  ya” sambil mengelus perutku dengan sorot mata yang terlihat begitu bahagia.
Menginjak trimester ketiga ini, aku mulai merasa gerah, mudah lelah, dan sulit tidur tetapi ada rasa bahagia tak terkira menjalani semua ini. Hari perkiraan lahir pun tiba, pagi itu aku mulai merasa perutku sakit setiap 4 menit sekali seperti mau datang bulan.
Aku segera beritahukan pada suami dan ibuku, mungkin saja ini adalah tanda-tanda aku mau lahiran. Ibu meminta suamiku untuk menemaniku jalan-jalan supaya segera ada pembukaan. Semua keluarga begitu antusias mempersiapkan kehadirannya, kulihat ibuku membersihkan seluruh ruang dan halaman rumah sedangkan suami dan ayahku bergantian menuntunku untuk jalan-jalan. Hingga sore aku dibawa ke bidan terdekat, bidan pun segera memeriksaku ternyata sudah pembukaan 3, Semakin malam perutku terasa semakin mulas teratur dan aku pun di rujuk ke salah satu R.S di kotaku.
Pukul 12 malam aku, ayah, dan suamiku tiba di Rumah sakit, dokter memeriksa kembali masih pembukaan 3, beliau menawariku untuk Caesar dan aku bilang “sebentar dok, aku masih kuat dan masih mau menunggunya”
“Baiklah, kita tunggu sampai pukul 2 jika pembukaan tidak bertambah kita langsung Caesar ya”
Aku hanya mengangguk pasrah, “semoga sebelum jam 2 kamu sudah lahir nak” batinku.
Perkembanganku terus di pantau, kulihat ayahku dari kejauhan terus merapalkan doa untukku 
Kontraksi pun datang kembali dan aku terus membaca doa nabi Yunus yang merendahkan diri serendah-rendahnya dan meninggikan Allah setinggi-tingginya, lama-lama aku tidak bisa berfikir, lama-lama aku tidak bisa membaca doa yang panjang, lama-lama hanya “Allah” yang bisa kuucapkan. Samar kulihat wajah ayah dan suamiku penuh tegang dan khawatir, tetapi netra nya begitu teduh untukku.
Pukul 01.30 aku mengalami pecah ketuban, aku berucap syukur kepada Allah, aku sudah bahagia sebentar lagi aku bisa melihat anakku dan aku tidak akan di Caesar. Bidan di R.S tersebut segera menghampiri dan memeriksaku , Tak disangka masih pembukaan 3.
Aku sudah pasrah jika jalannya memang harus Caesar, di satu sisi aku juga merasa bahagia karena tak lama lagi aku bisa melihat anakku.
Berbagai persiapan sudah di lakukan, memantau keadaan ibu dan anak dalam keadaan baik semuanya. Aku pun di bawa ke sebuah ruang untuk menjalani Caesar. Tak pernah kusangka aku akan berada di ruangan seperti ini, kulihat di sekelilingku banyak alat-alat medis yang entah apa fungsinya.
Aku masih merintih merasakan  kontraksi di meja operasi, dokter bilang “Sabar ya”.
Dokter kembali memeriksa keadaan bayi, masih baik Alhamdulillah. Selama tindakan Caesar aku terus membaca sholawat dan “ya Allah”, andai Allah memanggilku sekarang, aku harap namanya lah yang terakhir aku ingat dan aku ucap.
Terlihat dokter membenarkan tirai yang menutupiku, samar kudengar dokter bertanya pada temannya “bagaimana bayi nya tadi”. Deg, rasa jantungku tak karuan berbagai macam tanya di otakku bergantian menghujani pertanyaan demi pertanyaan.
“kemana bayiku dibawa, kenapa aku tidak mendengar suara tangisnya, ada apa” batinku.
Caesar selesai, aku dibawa keluar. Terlihat ibuku sudah menangis disana, ada hujan tangis di setiap sudut netra keluargaku dan tim medis seperti memberi isyarat “jangan sampai pasien tahu”. Ibu dan ayahku berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, pikirku semakin tak karuan.
Keadaanku terus di pantau di ruang ICU bersama suamiku. Sambil memeriksa keadaanku, bidan bertanya “Mbak, sebelum Caesar berapa kali di cek keadaan bayinya” Tanya bidan itu.
“saya lupa bu, yang pasti sangat sering dan selalu dalam keadaan baik” jawabku.
Kulihat suamiku membisikkan sesuatu pada bidan tersebut dan bidan itu mengangguk tanda dia memahami maksud suamiku. Pikiranku kembali berkelana “ada apa sih sebenarnya? Kenapa harus berbisik? Kenapa aku gak boleh tahu? Sebegitu rahasianya kah kondisi anakku saat ini?” batinku.
Suamiku mendekatiku, dia bilang “tim medis sedang berusaha semaksimal mungkin, anak kita sedang kritis andai terjadi apa-apa kita harus ikhlas dengan kehendak Allah” dengan susah payah suamiku mengumpulkan keberanian untuk memberitahuku tentang kondisi anakku.
Kupanggil nama Allah dan Hafiz, ya firdhan hafiz adalah nama yang sudah ku persiapkan jauh sebelum hari ini tiba, segala macam harap dan doa kupanjatkan, luka Caesar tak ada bandingnya dengan luka di hatiku saat ini.
Siang berlalu tak juga kudapat kabar tentang anakku, aku mencari gawaiku tidak ada, kupinjam gawai suamiku dan aku segera membuka aplikasi hijau miliknya. Sebuah pesan masuk, ternyata dari ibuku  menanyakan keadaanku “bagaimana keadaan istrimu? Sudah tahu kah dia?”
Dengan susah payah aku mengumpulkan keberanian untuk membuka pesan-pesan lain. Sudah ramai disana, kubuka sebuah grub dan jariku dengan cepat segera scroll keatas. Ya, disana sudah ada kabar bahwa anak kita telah berpulang. Suamiku datang dan merebut gawai nya dengan paksa, dia menangis sambil menggenggam tanganku. Dan ya, dalam hidupku aku baru sekali ini melihat suamiku menangis dan terlihat ada kesedihan yang begitu mendalam di sorot matanya. Aku menolehkan kepalaku, tak berani aku menatap netra teduh itu. Kini aku tahu bahwa anakku benar-benar telah berpulang.
***
Kulihat pasien di sebelahku, terlihat begitu bahagia menimang bayinya. “ya Allah begitu bahagia nya mereka” gumamku. Kemudian suaminya datang kepadaku dan bilang “sebelum ini, kami juga pernah seperti kalian, 2x kami kehilangan, sedihnya memang luar biasa”
“Astaghfirullahal adzim” aku berucap istighfar, begitulah hidup sawang sinawang, kita melihat kebahagiaan orang lain tanpa melihat luka yang juga pernah di laluinya.
***
Tiba di rumah orang berlalu lalang, silih berganti untuk melihat keadaanku, mereka bilang “sabar ya, sabar ya, dan sabar ya”.
Aku selalu meminta ke Allah untuk menangguhkan hatiku, karena hanya Allah lah yang mampu menolong hatiku saat ini. Sejak saat itu, aku tidak lagi bisa sendiri. Jam berganti jam, hari berganti hari, pun bulan berganti bulan aku tidak pernah melewatkan barang sehari pun untuk tidak mengingatnya. Aku terus saja menangis tanpa bisa aku menahannya. Berkali-kali aku minta maaf ke Allah “ya Allah bukannya aku gak ikhlas, bukannya aku gak sabar, tapi percayalah air mata ini hanya air mata kerinduan, dan itu manusiawi kan”.
Setiap hari ibu menesahatiku “bahwa setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita sudah menjadi kehendakNya, anakmu milik Allah, jika Allah memintanya lagi itu memang sudah menjadi hakNya” ucap ibuku.
“tidak apa-apa buk, aku percaya cinta Allah untuk hambaNya melebihi cinta ibu untuk anaknya” aku berusaha berkata seperti itu walau dengan hati yang entah bagaimana bentuknya.
Lahul fatihah. 

SELAMAT JALAN ANAKKU

Aku tercengang membaca tulisan temanku di media sosial yang mengabarkan bahwa anaknya telah berpulang, bisa terbaca disana ada kes...