Aku
tercengang membaca tulisan temanku di media sosial yang mengabarkan bahwa
anaknya telah berpulang, bisa terbaca disana ada kesedihan yang begitu amat
mendalam.
“Mas,
lihat deh baru kemarin temanku berbagi kabar bahagia bahwa anaknya telah lahir
dengan sehat dan selamat, hari ini dia mengabarkan bahwa anaknya telah
berpulang” sambil ku sodorkan gawai pada
suamiku dan memperlihatkan berita itu yang sudah tersebar dimana-mana.
“Iya
dek, memangnya sakit apa?” Tanya suamiku.
“Gak
tahu juga sih mas, kemarin juga sehat-sehat aja. Ya takdir Allah siapa yang
tahu? Tapi masyaAllah dia beruntung lo,
insyaAllah menjadi hamba pilihanNya yang akan di buatkan baitul hamdi di surga Allah begitulah kiranya aku pernah membaca
sebuah hadits, kita doakan saja ya supaya mereka sabar dan ikhlas”
“Aamiin”
“Alhamdulillah
hari ini sudah berjalan 7 bulan kehamilanku , tidak terasa ya mas? Sudah
kubayangkan aku akan menimangnya, aku
sangat menikmati kehamilan ini”
“Iya
dek, semoga sehat terus ya” sambil
mengelus perutku dengan sorot mata yang terlihat begitu bahagia.
Menginjak
trimester ketiga ini, aku mulai merasa gerah, mudah lelah, dan sulit tidur
tetapi ada rasa bahagia tak terkira menjalani semua ini. Hari perkiraan lahir
pun tiba, pagi itu aku mulai merasa perutku sakit setiap 4 menit sekali seperti
mau datang bulan.
Aku
segera beritahukan pada suami dan ibuku, mungkin saja ini adalah tanda-tanda
aku mau lahiran. Ibu meminta suamiku untuk menemaniku jalan-jalan supaya segera
ada pembukaan. Semua keluarga begitu antusias mempersiapkan kehadirannya,
kulihat ibuku membersihkan seluruh ruang dan halaman rumah sedangkan suami dan
ayahku bergantian menuntunku untuk jalan-jalan. Hingga sore aku dibawa ke bidan
terdekat, bidan pun segera memeriksaku ternyata sudah pembukaan 3, Semakin
malam perutku terasa semakin mulas teratur dan aku pun di rujuk ke salah satu
R.S di kotaku.
Pukul
12 malam aku, ayah, dan suamiku tiba di Rumah sakit, dokter memeriksa kembali
masih pembukaan 3, beliau menawariku untuk Caesar dan aku bilang “sebentar dok,
aku masih kuat dan masih mau menunggunya”
“Baiklah,
kita tunggu sampai pukul 2 jika pembukaan tidak bertambah kita langsung Caesar
ya”
Aku
hanya mengangguk pasrah, “semoga sebelum jam 2 kamu sudah lahir nak” batinku.
Perkembanganku
terus di pantau, kulihat ayahku dari kejauhan terus merapalkan doa untukku
Kontraksi
pun datang kembali dan aku terus membaca doa nabi Yunus yang merendahkan diri
serendah-rendahnya dan meninggikan Allah setinggi-tingginya, lama-lama aku
tidak bisa berfikir, lama-lama aku tidak bisa membaca doa yang panjang,
lama-lama hanya “Allah” yang bisa kuucapkan. Samar kulihat wajah ayah dan
suamiku penuh tegang dan khawatir, tetapi netra nya begitu teduh untukku.
Pukul
01.30 aku mengalami pecah ketuban, aku berucap syukur kepada Allah, aku sudah
bahagia sebentar lagi aku bisa melihat anakku dan aku tidak akan di Caesar.
Bidan di R.S tersebut segera menghampiri dan memeriksaku , Tak disangka masih
pembukaan 3.
Aku
sudah pasrah jika jalannya memang harus Caesar, di satu sisi aku juga merasa
bahagia karena tak lama lagi aku bisa melihat anakku.
Berbagai
persiapan sudah di lakukan, memantau keadaan ibu dan anak dalam keadaan baik
semuanya. Aku pun di bawa ke sebuah ruang untuk menjalani Caesar. Tak pernah
kusangka aku akan berada di ruangan seperti ini, kulihat di sekelilingku banyak
alat-alat medis yang entah apa fungsinya.
Aku
masih merintih merasakan kontraksi di
meja operasi, dokter bilang “Sabar ya”.
Dokter
kembali memeriksa keadaan bayi, masih baik Alhamdulillah. Selama tindakan
Caesar aku terus membaca sholawat dan “ya Allah”, andai Allah memanggilku
sekarang, aku harap namanya lah yang terakhir aku ingat dan aku ucap.
Terlihat
dokter membenarkan tirai yang menutupiku, samar kudengar dokter bertanya pada
temannya “bagaimana bayi nya tadi”. Deg, rasa jantungku tak karuan berbagai
macam tanya di otakku bergantian menghujani pertanyaan demi pertanyaan.
“kemana
bayiku dibawa, kenapa aku tidak mendengar suara tangisnya, ada apa” batinku.
Caesar
selesai, aku dibawa keluar. Terlihat ibuku sudah menangis disana, ada hujan
tangis di setiap sudut netra keluargaku dan tim medis seperti memberi isyarat
“jangan sampai pasien tahu”. Ibu dan ayahku berpamitan untuk pulang terlebih
dahulu, pikirku semakin tak karuan.
Keadaanku
terus di pantau di ruang ICU bersama suamiku. Sambil memeriksa keadaanku, bidan
bertanya “Mbak, sebelum Caesar berapa kali di cek keadaan bayinya” Tanya bidan
itu.
“saya
lupa bu, yang pasti sangat sering dan selalu dalam keadaan baik” jawabku.
Kulihat
suamiku membisikkan sesuatu pada bidan tersebut dan bidan itu mengangguk tanda
dia memahami maksud suamiku. Pikiranku kembali berkelana “ada apa sih
sebenarnya? Kenapa harus berbisik? Kenapa aku gak boleh tahu? Sebegitu
rahasianya kah kondisi anakku saat ini?” batinku.
Suamiku
mendekatiku, dia bilang “tim medis sedang berusaha semaksimal mungkin, anak
kita sedang kritis andai terjadi apa-apa kita harus ikhlas dengan kehendak
Allah” dengan susah payah suamiku mengumpulkan keberanian untuk memberitahuku
tentang kondisi anakku.
Kupanggil
nama Allah dan Hafiz, ya firdhan hafiz adalah nama yang sudah ku persiapkan jauh sebelum hari ini tiba, segala macam harap dan doa kupanjatkan, luka Caesar tak
ada bandingnya dengan luka di hatiku saat ini.
Siang
berlalu tak juga kudapat kabar tentang anakku, aku mencari gawaiku tidak ada,
kupinjam gawai suamiku dan aku segera membuka aplikasi hijau miliknya. Sebuah
pesan masuk, ternyata dari ibuku
menanyakan keadaanku “bagaimana keadaan istrimu? Sudah tahu kah dia?”
Dengan
susah payah aku mengumpulkan keberanian untuk membuka pesan-pesan lain. Sudah
ramai disana, kubuka sebuah grub dan jariku dengan cepat segera scroll keatas.
Ya, disana sudah ada kabar bahwa anak kita telah berpulang. Suamiku datang dan
merebut gawai nya dengan paksa, dia menangis sambil menggenggam tanganku. Dan
ya, dalam hidupku aku baru sekali ini melihat suamiku menangis dan terlihat ada
kesedihan yang begitu mendalam di sorot matanya. Aku menolehkan kepalaku, tak
berani aku menatap netra teduh itu. Kini aku tahu bahwa anakku benar-benar
telah berpulang.
***
Kulihat
pasien di sebelahku, terlihat begitu bahagia menimang bayinya. “ya Allah begitu
bahagia nya mereka” gumamku. Kemudian suaminya datang kepadaku dan bilang
“sebelum ini, kami juga pernah seperti kalian, 2x kami kehilangan, sedihnya
memang luar biasa”
“Astaghfirullahal
adzim” aku berucap istighfar, begitulah hidup sawang sinawang, kita melihat
kebahagiaan orang lain tanpa melihat luka yang juga pernah di laluinya.
***
Tiba
di rumah orang berlalu lalang, silih berganti untuk melihat keadaanku, mereka
bilang “sabar ya, sabar ya, dan sabar ya”.
Aku
selalu meminta ke Allah untuk menangguhkan hatiku, karena hanya Allah lah yang
mampu menolong hatiku saat ini. Sejak saat itu, aku tidak lagi bisa sendiri.
Jam berganti jam, hari berganti hari, pun bulan berganti bulan aku tidak pernah
melewatkan barang sehari pun untuk tidak mengingatnya. Aku terus saja menangis
tanpa bisa aku menahannya. Berkali-kali aku minta maaf ke Allah “ya Allah
bukannya aku gak ikhlas, bukannya aku gak sabar, tapi percayalah air mata ini
hanya air mata kerinduan, dan itu manusiawi kan”.
Setiap
hari ibu menesahatiku “bahwa setiap hal yang terjadi dalam
kehidupan kita sudah menjadi kehendakNya, anakmu milik Allah, jika Allah
memintanya lagi itu memang sudah menjadi hakNya” ucap ibuku.
“tidak
apa-apa buk, aku percaya cinta Allah untuk hambaNya melebihi cinta ibu untuk
anaknya” aku berusaha berkata seperti itu walau dengan hati yang entah
bagaimana bentuknya.
Lahul fatihah.
