Aku harus menulis kisah ini dari huruf apa yah? Sedang untuk
memulai sebuah titik pada huruf pertama
aku tak begitu mampu jika butiran bening seperti kristal itu selalu saja keluar
dari pelupuk mata ini saat kisah kita kembali menari pada benakku. Ayah, siapa
lagi yang dapat kusebut sebagai “satu-satunya pria terbaik dari yang paling
baik” jika bukan engkau? Siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “langit
kehidupan yang memancarkan sinar keindahan” jika bukan engkau? Siapa lagi yang
dapat kusebut sebagai “Nadi kehidupan” jika bukan engkau? Siapa lagi yang dapat
kusebut sebagai “harmoni kehidupan” jika bukan engkau?
Tiada batas ungkapan bahagiaku karena tentangmu adalah satu hal
yang sulit untuk ku definisikan. “Ayah” adalah satu kata dari definisi
kebahagiaanku, segala hal tentangmu ada pada palung hatiku, kau tinggal di
dasar hatiku yang memiliki ruang seperti istana disana, dan engkau adalah pria
pertama dan selamanya engkau ada disana dengan setiap kebaikan yang di
rahmatkan Tuhan atasmu. Ayah apakah tulangmu kini sedang dalam keadaan
baik-baik saja ataukah sudah mulai rapuh? Engkau tak perlu memberi jawaban
untukku atas itu ayah, karena aku tahu aku tak akan pernah mampu menahan
tangisku.
Satu hal yang kusukai dalam hidup ini adalah asyik menceritakan segala
hal tentangmu pada Tuhan yah. Sejauh tiada batas kasihmu untukku, Tuhan akan
selalu memberi rahmat untukmu. Masihkah kau ingat ketika aku mulai mengayuh
sepeda dengan kedua roda bantu? Ayah yang pertama mengajariku tentang
keseimbangan yang harus dijaga. Masihkah kau ingat ketika kakiku mulai
menyentuh air pada kolam itu? ayah yang pertama memelukku dalam kolam, yang
mengajariku tentang pengaturan nafas itu penting dalam berenang, kau tahu yah?
Meski tubuhku kecil, kini aku paling berani dalam mengahadapi alam diantara
teman-temanku. Masihkah kau ingat ketika tangisku pecah di larut malam, hingga
kau terbangun dari tidur lelapmu? Hingga kini cerita waktu itu mampu menjadi
pelipur lara atas sedihku, karena mengingat setiap waktu bersamamu adalah
bagian dari bahagiaku ayah.
Bahkan, masihkah ayah ingat nyamuk yang mulai menyentuh kulitku
saat aku tidur? Engkau terjaga karena itu, padahal kau tahu ayah? Aku hanya
pura-pura tidur waktu itu, aku hanya pura diam-diam dan kau tak pernah tahu
bahwa hatiku menjerit dengan sangat keras “Tuhan, ini ayahku dan dia
mencintaiku dengan sepenuh hati, aku ingin engkau juga mencintainya tanpa
batas, aku tahu di kehidupan ini dia tak luput dari dosa atas kesalahannya, ya
itu sifat manusia bukan? Yang tak bisa luput dari dosa. Oleh sebab itu,
maafkanlah kesalahan ayahku dan gantilah setiap kasih sekecil apapun itu yang
dia beri untukku dengan rahmatMu, dengan berkahMu, dengan nikmatMu. Jadikanlah
dia termasuk orang-orang yang mencintaimu juga engkau cintai. aku bergantung
padaMu atas kebahagiaanya, aku bergantung padaMu atas setiap hal yang telah dia
beri untukku. Tuhanku, demi engkau selamanya jangan penah putuskan kasihMu
untuk ayahku”
Aku melihat mata ayah semakin sayu, aku melihat wajah ayah semakin
mendekati masa tua nya, aku sakit. Ayah, seberapa jauh rasaku untukmu tak akan
pernah ada seorang pun yang mampu mengukurnya. Kenapa ayah berbeda? Ayah menjadi
sosok yang tak lagi mudah memberi senyum untukku, apa karena beban di pundakmu
semakin menekanmu hingga mengharuskan ayah untuk memendam seorang diri? Atau
ayah takut jika dewasaku terlalu asyik dengan hal-hal baru sehingga ayah tak
pantas mencampuri itu? Sungguh, ayah tak akan pernah terganti oleh masa.
Percayalah.
Jika saja ayah mampu melihat samudra kasih dalam hatiku, betapa
berartinya ayah dalam hidupku seperti
gugusan bintang yang saling beredar mengelilingi satu dengan yang lain,
aku merasa sempurna atas nikmat Tuhan melalui ayah. Satu episode kehidupan
bersamamu yang tak akan pernah terpisahkan dengan episode kehidupan yang lain
ayah, aku akan mencintaimu dimanapun dan kapanpun, selamanya. Tersenyumlah
seperti hari dimana kisah kita menari dengan rapi, akan kusimpan bingkai dalam
hati agar engkau tak merasa sendiri ayah, engkau berjalan bersama do’aku, aku
percaya Tuhan adalah sebaik-sebaik perancang kehidupan dan sebaik-baik
penjagaan ada di tanganNya. Ayah, aku rindu masa kecilku.
Aku pergi untuk kembali ayah, kembali membawa karya. Akan ada
karya-karya yang percikan tintanya tersebut namamu ayah. Percayalah, bahwa
karya-karya itu dibuat dengan setulus hati dari seorang putri yang teramat
sangat engkau cintai. semoga dengan itu aku mampu mengembalikan senyummu dan
membawamu pergi dari beban-beban yang memberatkan pundakmu. Sabar ayahku, aku
akan kembali untukmu.
