Rabu, 06 Desember 2017

Ayah, maukah kau jadi cinta pertama bagi anak perempuanmu?



Aku harus menulis kisah ini dari huruf apa yah? Sedang untuk memulai sebuah titik  pada huruf pertama aku tak begitu mampu jika butiran bening seperti kristal itu selalu saja keluar dari pelupuk mata ini saat kisah kita kembali menari pada benakku. Ayah, siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “satu-satunya pria terbaik dari yang paling baik” jika bukan engkau? Siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “langit kehidupan yang memancarkan sinar keindahan” jika bukan engkau? Siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “Nadi kehidupan” jika bukan engkau? Siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “harmoni kehidupan” jika bukan engkau?
Tiada batas ungkapan bahagiaku karena tentangmu adalah satu hal yang sulit untuk ku definisikan. “Ayah” adalah satu kata dari definisi kebahagiaanku, segala hal tentangmu ada pada palung hatiku, kau tinggal di dasar hatiku yang memiliki ruang seperti istana disana, dan engkau adalah pria pertama dan selamanya engkau ada disana dengan setiap kebaikan yang di rahmatkan Tuhan atasmu. Ayah apakah tulangmu kini sedang dalam keadaan baik-baik saja ataukah sudah mulai rapuh? Engkau tak perlu memberi jawaban untukku atas itu ayah, karena aku tahu aku tak akan pernah mampu menahan tangisku.
Satu hal yang kusukai dalam hidup ini adalah asyik menceritakan segala hal tentangmu pada Tuhan yah. Sejauh tiada batas kasihmu untukku, Tuhan akan selalu memberi rahmat untukmu. Masihkah kau ingat ketika aku mulai mengayuh sepeda dengan kedua roda bantu? Ayah yang pertama mengajariku tentang keseimbangan yang harus dijaga. Masihkah kau ingat ketika kakiku mulai menyentuh air pada kolam itu? ayah yang pertama memelukku dalam kolam, yang mengajariku tentang pengaturan nafas itu penting dalam berenang, kau tahu yah? Meski tubuhku kecil, kini aku paling berani dalam mengahadapi alam diantara teman-temanku. Masihkah kau ingat ketika tangisku pecah di larut malam, hingga kau terbangun dari tidur lelapmu? Hingga kini cerita waktu itu mampu menjadi pelipur lara atas sedihku, karena mengingat setiap waktu bersamamu adalah bagian dari bahagiaku ayah.
Bahkan, masihkah ayah ingat nyamuk yang mulai menyentuh kulitku saat aku tidur? Engkau terjaga karena itu, padahal kau tahu ayah? Aku hanya pura-pura tidur waktu itu, aku hanya pura diam-diam dan kau tak pernah tahu bahwa hatiku menjerit dengan sangat keras “Tuhan, ini ayahku dan dia mencintaiku dengan sepenuh hati, aku ingin engkau juga mencintainya tanpa batas, aku tahu di kehidupan ini dia tak luput dari dosa atas kesalahannya, ya itu sifat manusia bukan? Yang tak bisa luput dari dosa. Oleh sebab itu, maafkanlah kesalahan ayahku dan gantilah setiap kasih sekecil apapun itu yang dia beri untukku dengan rahmatMu, dengan berkahMu, dengan nikmatMu. Jadikanlah dia termasuk orang-orang yang mencintaimu juga engkau cintai. aku bergantung padaMu atas kebahagiaanya, aku bergantung padaMu atas setiap hal yang telah dia beri untukku. Tuhanku, demi engkau selamanya jangan penah putuskan kasihMu untuk ayahku”
Aku melihat mata ayah semakin sayu, aku melihat wajah ayah semakin mendekati masa tua nya, aku sakit. Ayah, seberapa jauh rasaku untukmu tak akan pernah ada seorang pun yang mampu mengukurnya. Kenapa ayah berbeda? Ayah menjadi sosok yang tak lagi mudah memberi senyum untukku, apa karena beban di pundakmu semakin menekanmu hingga mengharuskan ayah untuk memendam seorang diri? Atau ayah takut jika dewasaku terlalu asyik dengan hal-hal baru sehingga ayah tak pantas mencampuri itu? Sungguh, ayah tak akan pernah terganti oleh masa. Percayalah.
Jika saja ayah mampu melihat samudra kasih dalam hatiku, betapa berartinya ayah dalam hidupku seperti  gugusan bintang yang saling beredar mengelilingi satu dengan yang lain, aku merasa sempurna atas nikmat Tuhan melalui ayah. Satu episode kehidupan bersamamu yang tak akan pernah terpisahkan dengan episode kehidupan yang lain ayah, aku akan mencintaimu dimanapun dan kapanpun, selamanya. Tersenyumlah seperti hari dimana kisah kita menari dengan rapi, akan kusimpan bingkai dalam hati agar engkau tak merasa sendiri ayah, engkau berjalan bersama do’aku, aku percaya Tuhan adalah sebaik-sebaik perancang kehidupan dan sebaik-baik penjagaan ada di tanganNya. Ayah, aku rindu masa kecilku.
Aku pergi untuk kembali ayah, kembali membawa karya. Akan ada karya-karya yang percikan tintanya tersebut namamu ayah. Percayalah, bahwa karya-karya itu dibuat dengan setulus hati dari seorang putri yang teramat sangat engkau cintai. semoga dengan itu aku mampu mengembalikan senyummu dan membawamu pergi dari beban-beban yang memberatkan pundakmu. Sabar ayahku, aku akan kembali untukmu.





SELAMAT JALAN ANAKKU

Aku tercengang membaca tulisan temanku di media sosial yang mengabarkan bahwa anaknya telah berpulang, bisa terbaca disana ada kes...