Senin, 10 Februari 2020

SELAMAT JALAN ANAKKU





Aku tercengang membaca tulisan temanku di media sosial yang mengabarkan bahwa anaknya telah berpulang, bisa terbaca disana ada kesedihan yang begitu amat mendalam.
“Mas, lihat deh baru kemarin temanku berbagi kabar bahagia bahwa anaknya telah lahir dengan sehat dan selamat, hari ini dia mengabarkan bahwa anaknya telah berpulang”  sambil ku sodorkan gawai pada suamiku dan memperlihatkan berita itu yang sudah tersebar dimana-mana.
“Iya dek, memangnya sakit apa?” Tanya suamiku.
“Gak tahu juga sih mas, kemarin juga sehat-sehat aja. Ya takdir Allah siapa yang tahu? Tapi masyaAllah  dia beruntung lo, insyaAllah menjadi hamba pilihanNya yang akan di buatkan baitul hamdi  di surga Allah begitulah kiranya aku pernah membaca sebuah hadits, kita doakan saja ya supaya mereka sabar dan ikhlas”
“Aamiin” 
“Alhamdulillah hari ini sudah berjalan 7 bulan kehamilanku , tidak terasa ya mas? Sudah kubayangkan aku akan menimangnya,  aku sangat menikmati kehamilan ini”
“Iya dek, semoga sehat terus  ya” sambil mengelus perutku dengan sorot mata yang terlihat begitu bahagia.
Menginjak trimester ketiga ini, aku mulai merasa gerah, mudah lelah, dan sulit tidur tetapi ada rasa bahagia tak terkira menjalani semua ini. Hari perkiraan lahir pun tiba, pagi itu aku mulai merasa perutku sakit setiap 4 menit sekali seperti mau datang bulan.
Aku segera beritahukan pada suami dan ibuku, mungkin saja ini adalah tanda-tanda aku mau lahiran. Ibu meminta suamiku untuk menemaniku jalan-jalan supaya segera ada pembukaan. Semua keluarga begitu antusias mempersiapkan kehadirannya, kulihat ibuku membersihkan seluruh ruang dan halaman rumah sedangkan suami dan ayahku bergantian menuntunku untuk jalan-jalan. Hingga sore aku dibawa ke bidan terdekat, bidan pun segera memeriksaku ternyata sudah pembukaan 3, Semakin malam perutku terasa semakin mulas teratur dan aku pun di rujuk ke salah satu R.S di kotaku.
Pukul 12 malam aku, ayah, dan suamiku tiba di Rumah sakit, dokter memeriksa kembali masih pembukaan 3, beliau menawariku untuk Caesar dan aku bilang “sebentar dok, aku masih kuat dan masih mau menunggunya”
“Baiklah, kita tunggu sampai pukul 2 jika pembukaan tidak bertambah kita langsung Caesar ya”
Aku hanya mengangguk pasrah, “semoga sebelum jam 2 kamu sudah lahir nak” batinku.
Perkembanganku terus di pantau, kulihat ayahku dari kejauhan terus merapalkan doa untukku 
Kontraksi pun datang kembali dan aku terus membaca doa nabi Yunus yang merendahkan diri serendah-rendahnya dan meninggikan Allah setinggi-tingginya, lama-lama aku tidak bisa berfikir, lama-lama aku tidak bisa membaca doa yang panjang, lama-lama hanya “Allah” yang bisa kuucapkan. Samar kulihat wajah ayah dan suamiku penuh tegang dan khawatir, tetapi netra nya begitu teduh untukku.
Pukul 01.30 aku mengalami pecah ketuban, aku berucap syukur kepada Allah, aku sudah bahagia sebentar lagi aku bisa melihat anakku dan aku tidak akan di Caesar. Bidan di R.S tersebut segera menghampiri dan memeriksaku , Tak disangka masih pembukaan 3.
Aku sudah pasrah jika jalannya memang harus Caesar, di satu sisi aku juga merasa bahagia karena tak lama lagi aku bisa melihat anakku.
Berbagai persiapan sudah di lakukan, memantau keadaan ibu dan anak dalam keadaan baik semuanya. Aku pun di bawa ke sebuah ruang untuk menjalani Caesar. Tak pernah kusangka aku akan berada di ruangan seperti ini, kulihat di sekelilingku banyak alat-alat medis yang entah apa fungsinya.
Aku masih merintih merasakan  kontraksi di meja operasi, dokter bilang “Sabar ya”.
Dokter kembali memeriksa keadaan bayi, masih baik Alhamdulillah. Selama tindakan Caesar aku terus membaca sholawat dan “ya Allah”, andai Allah memanggilku sekarang, aku harap namanya lah yang terakhir aku ingat dan aku ucap.
Terlihat dokter membenarkan tirai yang menutupiku, samar kudengar dokter bertanya pada temannya “bagaimana bayi nya tadi”. Deg, rasa jantungku tak karuan berbagai macam tanya di otakku bergantian menghujani pertanyaan demi pertanyaan.
“kemana bayiku dibawa, kenapa aku tidak mendengar suara tangisnya, ada apa” batinku.
Caesar selesai, aku dibawa keluar. Terlihat ibuku sudah menangis disana, ada hujan tangis di setiap sudut netra keluargaku dan tim medis seperti memberi isyarat “jangan sampai pasien tahu”. Ibu dan ayahku berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, pikirku semakin tak karuan.
Keadaanku terus di pantau di ruang ICU bersama suamiku. Sambil memeriksa keadaanku, bidan bertanya “Mbak, sebelum Caesar berapa kali di cek keadaan bayinya” Tanya bidan itu.
“saya lupa bu, yang pasti sangat sering dan selalu dalam keadaan baik” jawabku.
Kulihat suamiku membisikkan sesuatu pada bidan tersebut dan bidan itu mengangguk tanda dia memahami maksud suamiku. Pikiranku kembali berkelana “ada apa sih sebenarnya? Kenapa harus berbisik? Kenapa aku gak boleh tahu? Sebegitu rahasianya kah kondisi anakku saat ini?” batinku.
Suamiku mendekatiku, dia bilang “tim medis sedang berusaha semaksimal mungkin, anak kita sedang kritis andai terjadi apa-apa kita harus ikhlas dengan kehendak Allah” dengan susah payah suamiku mengumpulkan keberanian untuk memberitahuku tentang kondisi anakku.
Kupanggil nama Allah dan Hafiz, ya firdhan hafiz adalah nama yang sudah ku persiapkan jauh sebelum hari ini tiba, segala macam harap dan doa kupanjatkan, luka Caesar tak ada bandingnya dengan luka di hatiku saat ini.
Siang berlalu tak juga kudapat kabar tentang anakku, aku mencari gawaiku tidak ada, kupinjam gawai suamiku dan aku segera membuka aplikasi hijau miliknya. Sebuah pesan masuk, ternyata dari ibuku  menanyakan keadaanku “bagaimana keadaan istrimu? Sudah tahu kah dia?”
Dengan susah payah aku mengumpulkan keberanian untuk membuka pesan-pesan lain. Sudah ramai disana, kubuka sebuah grub dan jariku dengan cepat segera scroll keatas. Ya, disana sudah ada kabar bahwa anak kita telah berpulang. Suamiku datang dan merebut gawai nya dengan paksa, dia menangis sambil menggenggam tanganku. Dan ya, dalam hidupku aku baru sekali ini melihat suamiku menangis dan terlihat ada kesedihan yang begitu mendalam di sorot matanya. Aku menolehkan kepalaku, tak berani aku menatap netra teduh itu. Kini aku tahu bahwa anakku benar-benar telah berpulang.
***
Kulihat pasien di sebelahku, terlihat begitu bahagia menimang bayinya. “ya Allah begitu bahagia nya mereka” gumamku. Kemudian suaminya datang kepadaku dan bilang “sebelum ini, kami juga pernah seperti kalian, 2x kami kehilangan, sedihnya memang luar biasa”
“Astaghfirullahal adzim” aku berucap istighfar, begitulah hidup sawang sinawang, kita melihat kebahagiaan orang lain tanpa melihat luka yang juga pernah di laluinya.
***
Tiba di rumah orang berlalu lalang, silih berganti untuk melihat keadaanku, mereka bilang “sabar ya, sabar ya, dan sabar ya”.
Aku selalu meminta ke Allah untuk menangguhkan hatiku, karena hanya Allah lah yang mampu menolong hatiku saat ini. Sejak saat itu, aku tidak lagi bisa sendiri. Jam berganti jam, hari berganti hari, pun bulan berganti bulan aku tidak pernah melewatkan barang sehari pun untuk tidak mengingatnya. Aku terus saja menangis tanpa bisa aku menahannya. Berkali-kali aku minta maaf ke Allah “ya Allah bukannya aku gak ikhlas, bukannya aku gak sabar, tapi percayalah air mata ini hanya air mata kerinduan, dan itu manusiawi kan”.
Setiap hari ibu menesahatiku “bahwa setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita sudah menjadi kehendakNya, anakmu milik Allah, jika Allah memintanya lagi itu memang sudah menjadi hakNya” ucap ibuku.
“tidak apa-apa buk, aku percaya cinta Allah untuk hambaNya melebihi cinta ibu untuk anaknya” aku berusaha berkata seperti itu walau dengan hati yang entah bagaimana bentuknya.
Lahul fatihah. 

Rabu, 06 Desember 2017

Ayah, maukah kau jadi cinta pertama bagi anak perempuanmu?



Aku harus menulis kisah ini dari huruf apa yah? Sedang untuk memulai sebuah titik  pada huruf pertama aku tak begitu mampu jika butiran bening seperti kristal itu selalu saja keluar dari pelupuk mata ini saat kisah kita kembali menari pada benakku. Ayah, siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “satu-satunya pria terbaik dari yang paling baik” jika bukan engkau? Siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “langit kehidupan yang memancarkan sinar keindahan” jika bukan engkau? Siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “Nadi kehidupan” jika bukan engkau? Siapa lagi yang dapat kusebut sebagai “harmoni kehidupan” jika bukan engkau?
Tiada batas ungkapan bahagiaku karena tentangmu adalah satu hal yang sulit untuk ku definisikan. “Ayah” adalah satu kata dari definisi kebahagiaanku, segala hal tentangmu ada pada palung hatiku, kau tinggal di dasar hatiku yang memiliki ruang seperti istana disana, dan engkau adalah pria pertama dan selamanya engkau ada disana dengan setiap kebaikan yang di rahmatkan Tuhan atasmu. Ayah apakah tulangmu kini sedang dalam keadaan baik-baik saja ataukah sudah mulai rapuh? Engkau tak perlu memberi jawaban untukku atas itu ayah, karena aku tahu aku tak akan pernah mampu menahan tangisku.
Satu hal yang kusukai dalam hidup ini adalah asyik menceritakan segala hal tentangmu pada Tuhan yah. Sejauh tiada batas kasihmu untukku, Tuhan akan selalu memberi rahmat untukmu. Masihkah kau ingat ketika aku mulai mengayuh sepeda dengan kedua roda bantu? Ayah yang pertama mengajariku tentang keseimbangan yang harus dijaga. Masihkah kau ingat ketika kakiku mulai menyentuh air pada kolam itu? ayah yang pertama memelukku dalam kolam, yang mengajariku tentang pengaturan nafas itu penting dalam berenang, kau tahu yah? Meski tubuhku kecil, kini aku paling berani dalam mengahadapi alam diantara teman-temanku. Masihkah kau ingat ketika tangisku pecah di larut malam, hingga kau terbangun dari tidur lelapmu? Hingga kini cerita waktu itu mampu menjadi pelipur lara atas sedihku, karena mengingat setiap waktu bersamamu adalah bagian dari bahagiaku ayah.
Bahkan, masihkah ayah ingat nyamuk yang mulai menyentuh kulitku saat aku tidur? Engkau terjaga karena itu, padahal kau tahu ayah? Aku hanya pura-pura tidur waktu itu, aku hanya pura diam-diam dan kau tak pernah tahu bahwa hatiku menjerit dengan sangat keras “Tuhan, ini ayahku dan dia mencintaiku dengan sepenuh hati, aku ingin engkau juga mencintainya tanpa batas, aku tahu di kehidupan ini dia tak luput dari dosa atas kesalahannya, ya itu sifat manusia bukan? Yang tak bisa luput dari dosa. Oleh sebab itu, maafkanlah kesalahan ayahku dan gantilah setiap kasih sekecil apapun itu yang dia beri untukku dengan rahmatMu, dengan berkahMu, dengan nikmatMu. Jadikanlah dia termasuk orang-orang yang mencintaimu juga engkau cintai. aku bergantung padaMu atas kebahagiaanya, aku bergantung padaMu atas setiap hal yang telah dia beri untukku. Tuhanku, demi engkau selamanya jangan penah putuskan kasihMu untuk ayahku”
Aku melihat mata ayah semakin sayu, aku melihat wajah ayah semakin mendekati masa tua nya, aku sakit. Ayah, seberapa jauh rasaku untukmu tak akan pernah ada seorang pun yang mampu mengukurnya. Kenapa ayah berbeda? Ayah menjadi sosok yang tak lagi mudah memberi senyum untukku, apa karena beban di pundakmu semakin menekanmu hingga mengharuskan ayah untuk memendam seorang diri? Atau ayah takut jika dewasaku terlalu asyik dengan hal-hal baru sehingga ayah tak pantas mencampuri itu? Sungguh, ayah tak akan pernah terganti oleh masa. Percayalah.
Jika saja ayah mampu melihat samudra kasih dalam hatiku, betapa berartinya ayah dalam hidupku seperti  gugusan bintang yang saling beredar mengelilingi satu dengan yang lain, aku merasa sempurna atas nikmat Tuhan melalui ayah. Satu episode kehidupan bersamamu yang tak akan pernah terpisahkan dengan episode kehidupan yang lain ayah, aku akan mencintaimu dimanapun dan kapanpun, selamanya. Tersenyumlah seperti hari dimana kisah kita menari dengan rapi, akan kusimpan bingkai dalam hati agar engkau tak merasa sendiri ayah, engkau berjalan bersama do’aku, aku percaya Tuhan adalah sebaik-sebaik perancang kehidupan dan sebaik-baik penjagaan ada di tanganNya. Ayah, aku rindu masa kecilku.
Aku pergi untuk kembali ayah, kembali membawa karya. Akan ada karya-karya yang percikan tintanya tersebut namamu ayah. Percayalah, bahwa karya-karya itu dibuat dengan setulus hati dari seorang putri yang teramat sangat engkau cintai. semoga dengan itu aku mampu mengembalikan senyummu dan membawamu pergi dari beban-beban yang memberatkan pundakmu. Sabar ayahku, aku akan kembali untukmu.





Minggu, 14 Mei 2017

Berada jauh darimu, apa harus seluka ini?





Jarak tak pernah bisa berdusta bahwa ia menyisakan sebuah rindu, dan rindu pun tak pernah bisa berdusta bahwa ia menyisakan luka. Luka yang aku tak pernah mampu menguraikannya, ia menjadi sebuah hal yang tidak pernah diketahui sejarah awal dan akhirnya. Rindu ada, tanpa tahu ia lahir dari mana. Yang aku tahu rindu terbaik lahir dari sesuatu yang teramat sangat berharga dalam sebuah kehidupan dan ia bagaikan jiwa yang harus ada di setiap hal yang hidup dan berharga. Benarkah kau sangat berharga untukku? Aku tak pernah mampu menjawabnya dan sampai kapanpun aku tak akan pernah mampu. Kau tahu kenapa? Tidak hanya sekedar berharga, dan aku tidak tahu harus menyebutnya apa.
Kau tahu langit? Dan bagaimana langit tanpa bintang? Bukankah bintang memperindah langit malam? Aku langit malam dan kau yang memperindah diriku denan sinarmu J begitulah Tuhan mengatur setiap inci keindahan dalam sebuah kehidupan manusia. Setiap kali aku bertanya pada Tuhan tentangmu, hanya airmata yang menghiasi saat itu yang entah apa maksud dari semuanya. Sepenuhnya aku menyadari bahwa kau belum benar-benar menjadi milikku, namun sepenuhnya aku juga menyadari bahwa kau adalah sebuah hadiah Tuhan yang membuatku harus melalui sebuah perjalanan panjang yang didalamnya penuh rintangan juga membutuhkan sebuah perjuangan  untuk memilikimu. Kau mengerti kan apa arti semua itu bagiku?
Karena menurutku, menemukanmu seperti aku mencari sebuah bintang di siang hari. Merindukanmu seperti aku menanti masalalu hadir kembali. Dan mencintaimu seperti saat aku menangis, hanya hati yang mampu merasakan  tanpa bisa terdefinisikan.  Kau tahu apa arti semuanya? menemukanmu itu sangat sulit dan hampir mustahil tapi takdir Tuhan is nothing impossible, sedangkan merindukanmu adalah suatu cerita yang tidak pernah ada ending nya, juga mencintaimu yang sepenuhnya hanya aku dan Tuhan yang tahu seberapa besar rasa itu.
            Ingin rasanya aku menghitung setiap jarak dan aku berlari bersama waktu bertemu denganmu, aku sangat merindukan titik waktu itu, dimana Tuhan berkata “waktunya bersama”. Aku tidak pernah letih dari mendoakanmu agar kau senantiasa bersabar dalam perjalanan ini, dan aku tidak pernah letih meminta agar Tuhan mempersatukan kita karena aku tahu di setiap perjalanan itu tak pernah lepas dari pendampingan Tuhan yang maha kasih. Kau percaya kan bahwa perjalanan ini begitu mulia?
Malam adalah suatu waktu dimana aku biasa memutar sebuah rekaman kehidupanku yang di dalamnya tak pernah lepas dari kisahmu. Di setiap hari, bahkan setiap waktu kau adalah cerita yang tidak semua orang mampu menjadi penikmatnya, namun setiap orang mampu menjadi pendengarnya. Aku pernah membaca sebuah kisah bahwa “dalam suatu cerita, jika kau lebih banyak luka maka, cerita itu sudah tak layak menjadi bagian cerita kehidupan” akan tetapi, bagaimana jika luka ini karena merindukanmu? Akankah cerita kita suda tak layak untuk diteruskan? Ah menurutku justru cerita ini yang wajib dijaga alurnya supaya tampak lebih indah, karena kutahu bahwa hakikatnya rindu itu memperindah. Ah roman ini sangat membahagiakan. Aku suka caramu bersabar disetiap episode nya, bersabar dengan ujian maupun penantian. Dan kuharap kau seperti ini terus, berbenahlah, bersiaplah, karena sebentar lagi kita akan masuk pada episode sejarah besar dalam kehidupan. Momen itu kan yang selalu kita rindukan dan kita nantikan di setiap pejalanan waktu nya? Percayalah waktu itu akan segera tiba, percayalah Tuhan tak pernah untuk tak mengabulkan setiap do’a. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu.
aku tidak pernah ingin membencmu jarak, jadilah kau sinar-sinar yang menerangi setip langkah dalam kehidupanku.


Kamis, 04 Mei 2017

Jodoh itu “terimaksih Tuhan” bukan “kenapa Tuhan”




Jodoh terbaik lahir dari keikhlasan kita juga kesabaran atas setiap takdir Allah, ia juga lahir dari perjuangan yang begitu hebat juga menyakitkan. akan tetapi, suatu hal yang menyakitkan  itu menjadikan pribadi kita jauh lebih tangguh dari sebelumnya. kita menganggap bahwa takdir kita sangat buruk ketika Allah mengambil seseorang yang sangat kita cintai, padahal kita sudah berniat untuk menjadikannya pasangan hidup kita selamnaya. Ribuan bahkan lebih dari jutaan cara Allah memisahkan kita dari orang yang sangat kita cintai hanya untuk mempertemukan kita dengan seseorang yang menurutNya jauh lebih baik, yang membuat kita nyaman berada di sampingnya, yang membuat kita menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, yang membuat kita tidak ragu untuk menampakkan setiap kekurangan kita di depannya, yang membuat kita menangis karena melihat perjuangannya yang penuh dengan ketulusan juga kasih sayang, juga membuat kita selalu punya banyak alasan untuk bertahan meski sempat ada pertengkaran hebat berkali-kali. Dia lah jodoh yang Allah siapkan untuk kita.
Ketika sebuah perjalanan cinta gagal dalam proses nya, seringkali kita bertanya:
“kenapa Tuhan Kau beri rasa cinta di hati yang begitu dalam sedangkan, Kau tak merestui kita untuk bersatu dalam ikatan suci pernikahan” 
“kenapa Tuhan Kau hadirkan dia dalam hidupku, yang pada akhirnya Kau memisahkan kami”
“kenapa Tuhan dia pergi dariku, sedangkan aku selalu berusaha yang terbaik untuk bertahan disampingnya, kenapa Kau hukum aku seberat ini harus berpisah dengannya sulit untuk ikhlas menerima”   
“kenapa Tuhan, takdirku begitu buruk harus berpisah dengannya, ia adalah satu-satu nya yang aku harapkan menemaniku selamanya, dan aku begitu bahagia bersamanya, teteapi kenapa takdirMu berkata lain Tuhan”
Dan masih banyak pertanyaan di benak kita tentang “kenapa Tuhan”. Sejatinya apapun yang terjadi dalam hidup kita merupakan sebuah proses yang memberikan hasil luar biasa di masa depan kita. Kebahagian kita adalah hasil dari produk di masalalu, seberapa tangguh kita dalam sebuah kesabaran, kesabaran kita hari ini adalah kebahagiaan di hari berikutnya.  Kelak, kita akan menyadari bahwa setiap proses itu merupakan harga yang memang harus dibayar untuk membeli kebahagiaan yang hakiki. Dan ketika Allah telah mempertemukan kita dengan jodoh terbaik menurutNya, maka kita akan berucap “terimakasih Tuhan, Kau pertemukan aku dengan ia yang senantiasa berusaha membuatku bahagia dan tidak miskin perjuangan untuk membahagiakan ku, menuntunku pada Mu, dia adalah hadiah terindah dalam hidupku, Terima kasih Tuhan”.
Bersiap-siaplah menerima setiap kejutan dalam hidupmu yang spektakuler dan penuh kejaiban, karena setiap orang memiliki jatah kebahagiaan, jatah berproses, jatah ujian juga cobaan yang menyakitkan. Maka, bersabarlah di setiap jatah-jatah yang memilukan itu, dan percayalah bahwa setiap insan memiliki “jatah bahagia” hanya saja waktu yang akan mempertemukan kita pada kebahagiaan tersebut.
Bukankah untuk mencapai suatu tempat yang indah, kita perlu berjalan? Dan bukankah kita tahu bahwa tidak semua jalan selalu indah, ada jalan berlubang, menanjak, berbelok, juga sempit. Pun sama dengan jalan kehidupan kita, tapi bukankan terasa sangat bahagaia ketika kita telah sampai pada suatu tujuan disana, bertemu dengan sebuah harapan yang selama ini hanya di angan-anagan saja.. juga kita tahu bahwa setiap musibah selalu ada jeda dan reda kan? Bersabarlah sebentar, tapi jangan diam. Teruslah berusaha menemukan radar-radar kasih yang kita cari, hingga sampai pada pemilik cinta sejati. Bagaimana cara aktif mencarinya? Jangan pernah merasa letih berharap padaNya, meski apa yang kita harapkan tak kunjung datang karena percayalah ia juga sedang berusaha menemukan jalan untuk sampai kepada kita, ia juga terus berjalan sama dengan kita, bukankah akan indah bila kita sama-sama berjalan untuk bertemu dan bersatu di penghujung hari yang telah direncanakan oleh Tuhan.
Kelak, kita akan senantiasa mengucap “terimakasih Tuhan” dan ia menggenggam erat tangan kita, memadukan jari-jemari kita dengan penuh manja juga penuh cinta dan ia akan memabawa kita di setiap perjalanan kehidupannya.

Selasa, 25 April 2017

Aku menyesal pernah bilang “kamu tak tergantikan”





Bagaimana bisa dulu aku meyakini bahwa selamanya “kau tak akan pernah terganti”. Bagaimana mungkin aku meyakini bahwa “kau adalah takdirku” sedangkan, tegur sapa mu pun tak pernah ada untukku dan Tuhan yang maha romantis telah mempersiapkan takdir lain untukku. Kau tahu? Bahkan untuk bertanya pada Tuhan melalui istikharah cinta pun aku tak pernah mau. Kau tau kenapa? Aku sangat takut kehilangan kamu, aku sangat takut Allah memberi petunjuk bahwa “kau bukan takdirku”. aku egois? Ya, benar aku egois dan aku memaksa Tuhan untuk menjodohkan aku denganmu.  Kau lihat? Betapa tergila-gila nya aku dengan segala hal yang ada dalam dirimu yang tak pernah kutemukan pada diri laki-laki lain. ah sudah lah rasanya aku ingin tertawa dengan segala hal tentang dirimu, sekarang aku sadar betapa bodohnya cinta yang kukira baik untuk ku, padahal cinta pilihan Tuhan adalah terbaik diatas pilihan terbaik ku yang menurutku itu “kamu”.
Aku marah, aku sakit, patah hati berkali-kali karenamu, karena kau tiba-tiba mengubah dirimu layaknya monster yang aku sangat takut dan tak ingin melihatmu. Aku menangis sejadi-jadi nya, aku marah “kenapa Tuhan hadirkan cinta dalam hatiku yang pada akhirnya kau tak pernah untukku”. Dan parahnya, kau tak pernah menyadari atas sakit yang kamu cipta untukku, kamu pergi entah kemana hatimu berlabuh kini. Aku mencintaimu, Tapi aku sadar, bahwa nyatanya aku bukan yang terbaik, aku bukan yang terpantas, aku bukan pilihan Tuhan untuk menemanimu, juga bukan wanita yang mampu membuatmu merasa bahagia setiap di sisiku. Aku berusaha ikhlas dengan takdirku, mulai berdamai dengan setiap keadaan. Mulai merajut asa kembali, tapi perlu kau tahu? Kini aku jadi takut “jatuh cinta” lagi. Menurutku takut “jatuh cinta” ini lebih fatal dari patah hati ku denganmu yang juga mampu menghempaskan logikaku.
Bagaimana kau bertanggung jawab dengan semua yang terjadi pada diriku? Karena kamu membuatku jatuh tanpa membantuku untuk bangun. Kau jahat? Tidak, aku tidak bilang kamu jahat. Tidak ada yang patut di persalahakan atas semua ini, pertama takdir Allah yang memang berjalan berbelok dari perkiraannku, kedua diriku sendiri yang terlalu berharap atas hatimu, ketiga kamu sendiri yang mungkin suka memberi harapan (eh, maaf ya aku bilang mungkin saja). Aku lelah dengan sakit, lelah dengan setiap luka, lelah dengan airmata yang pada akhirnya mengantarku pada Tuhan dengan suara terbata-bata meminta Dia untuk menghadirkan cinta kembali dan melabuhkannya hanya pada seseorang yang benar-benar mampu memperjuangkanku dengan tulus. Bukankah dengan begitu, aku meminta agar kau ada pengganti nya bukan? Sedangkan dulu aku berkeyakinan bahwa kau tak akan pernah terganti, aku menyesal menjadikanmu  sesuatu yang kuyakini “tak terganti” sedangkan kau begitu mudah “menggantikanku” dengan yang lain.
Namun, detik senantiasa merangkak menuju jam tanpa henti. Tuhan menyayangiku, Ia tidak akan pernah membiarkanku terluka lebih lama lagi. Ia hadirkan kembali cinta dalam hatiku dengan sisa-sisa serpihan luka itu dan luar biasa mengejutkan cinta yang Tuhan hadirkan menurut pilihanNya untuk ku mampu membuat sisa-sisa serpihan itu menjadi sempurna kembali. Dan aku harus berterimakasih padamu yang memberiku pelajaran luar biasa dalam hidup bahwa “sabar dengan takdir yang tak sejalan dengan kita itu sangat perlu, bertahan bersama luka itu romantis, karena Allah akan menggantikanNya dengan yang jauh lebih baik, dan Allah itu menurut prasangka hambaNya jika hambaNya berprasangka baik, maka Ia hadirkan yang terbaik. Terimakasih kau juga mengajariku betapa kekuatan do’a orang-orang yang patah hati mampu menembus langit pada tingkatan-tingkatan nya.”
Gambaran sebuah perasaan diatas mungkin pernah terjadi di kehidupan kita. Diantara kita tentunya pernah merasakan bagaimana jatuh cinta juga patah hati bukan? Rasa dari jatuh cinta itu sendiri pun tak terdefinisikan melalui kalimat, ia hanya bisa dirasakan melalui bahasa perasaan. Rasa cinta merupakan fitrah manusia, perlu disyukuri bahwa sebuah rasa adalah anugrah Tuhan. Tapi, jangan lupa bahwa Tuhan maha membolak-balikkan hati. Bisa jadi kan hari ini cinta, di kemudian hari berbalik 180  yang malah mampu membuat hidup kita jauh dari Allah, karena kita tidak terima takdir Allah berjalan jauh dari harapan kita, wah ini sangat merugikan kita. Sebaiknya nih ya, ingat selalu pesan Allah bahwa “Aku tidak akan mengambil sesuatu dari hambaku, melainkan menggantinya dengan yang jauh lebih baik” ingat ya ingat pesan Allah ini, karena Allah yang paling mengetahui segala hal yang terbaik untuk kita. Tetap semangat buat yang lagi patah hati ya, semoga Allah segera memulihkan luka dan menghadirkan cinta kembali. Yakinilah bahwa skenario Allah begitu romantis, tiba saatnya kita tidak hanya dipertemukan tetapi juga dipersatukan dalam sebuah keluarga sederhana yang memiliki kebahagiaan luar biasa.

SELAMAT JALAN ANAKKU

Aku tercengang membaca tulisan temanku di media sosial yang mengabarkan bahwa anaknya telah berpulang, bisa terbaca disana ada kes...